Menjelajahi Tohoku dan Hokuriku - Nikmati Keindahan Pemandangan Alam yang Melampaui Waktu di Niigata, Yamagata, dan Akita

Dijuluki "Negeri Salju", Tohoku dan Hokuriku memiliki begitu banyak tempat dan pemandangan menarik yang tidak terhitung jumlahnya. Di wilayah penuh pesona ini, Anda dapat mengunjungi kota kastil bersejarah di Gunung Haguro, Gudang Beras Sankyo yang menjadi lokasi syuting drama Jepang terkenal berjudul "Oshin", Kota Sakata yang tetap melestarikan budaya restoran tradisional, dan mengagumi pemandangan matahari terbenam di atas Laut Jepang di Nemunooka. Tidak hanya itu, Prefektur Niigata, Yamagata, dan Akita juga menyimpan banyak peninggalan sejarah dari zaman Edo (1603 – 1868) yang masih terjaga dan terpelihara hingga kini. Hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan dengan Shinkansen dari Tokyo, Tohoku dan Hokuriku menjadi pilihan sempurna untuk Anda yang ingin menikmati keindahan abadi Jepang.

Tohoku

Wisata

Prefektur Niigata

Kota Kastil Murakami

Kota Kastil Murakami terletak di bagian paling utara Prefektur Niigata. Di kota dengan suasana khas Jepang ini terdapat reruntuhan Kastil Murakami, kuil-kuil Buddha, kediaman samurai bersejarah, rumah pedagang tradisional yang disebut "machiya", dan area perbelanjaan yang ramai. Saat menelusuri jalan-jalan kota tua, Anda pasti akan terpesona dengan pemandangan Jepang tempo dulu yang menciptakan kembali suasana kehidupan sehari-hari di masa lalu.

Pada Festival Layar Lipat Murakami yang diadakan setiap tahun dari tanggal 15 September hingga 15 Oktober, berbagai layar lipat tidak ternilai yang diwariskan oleh keluarga-keluarga di kota kastil dipamerkan. Selama festival berlangsung, machiya dan toko-toko di sini digunakan sebagai tempat pameran. Beberapa tempat bahkan hanya dibuka saat festival. Di sini, para pengunjung dapat melihat layar-layar lipat yang diturunkan dari generasi ke generasi, dan mengagumi hasil kerajinan tradisional Murakami seperti pernis vermilion serta barang-barang rumah tangga dan mainan tradisional. Dengan menghadiri festival, Anda akan mendapatkan kesempatan emas untuk melihat sendiri bermacam-macam artefak budaya berharga yang dilestarikan selama bertahun-tahun di Murakami. 

Sorotan lain dari kota ini adalah Jalan Kurobe (Gang Anzen), yang dibingkai oleh pagar hitam tradisional dan masih memiliki suasana khas kota kastil. Ada pula Festival Lentera Bambu yang diselenggarakan setiap bulan Oktober. Semua pengunjung yang datang ke festival akan dijamu oleh oleh 20.000 lentera bambu dan pertunjukan musik yang diadakan di kuil dan machiya di sekitarnya.

Anda juga bisa mengunjungi Ruang Pameran Nagomikura untuk mempelajari dan mencicipi sake lokal yang ditawarkan. Pengalaman ini pasti menjadikan perjalanan Anda ke daerah tersebut semakin bermakna. Sake yang dihasilkan dari beras berkualitas tinggi yang ditanam di lingkungan bersih benar-benar nikmat dan mudah diminum.

Salmon Seribu Tahun: Kikkawa

Sennen-zake Kikkawa adalah salah satu perhentian yang tidak boleh dilewatkan ketika Anda berkunjung ke Kota Murakami. Pada zaman Heian (794 - 1192), Murakami membayar pajak ke ibu kota dengan salmon. Bagi orang Jepang, salmon dianggap sebagai ikan istimewa sejak 1.000 tahun lalu. Selama masa itu, lebih dari 100 jenis metode memasak dikembangkan, termasuk mengolah kepala dan jeroan, sehingga seluruh bagian dapat dimakan tanpa sisa. Salmon asin salah satunya. Untuk membuat hidangan ini, ikan salmon dilumuri garam, diasinkan selama 3 sampai 5 hari, lalu diawetkan dengan angin dingin barat laut selama 3 hingga 4 minggu. Dengan metode tersebut, enzim dalam salmon menciptakan proses fermentasi asam amino yang memberikan tekstur unik pada daging dan rasa umami yang kaya.

Produk-produk yang dijual di Kikkawa bebas dari bahan pengawet dan kimia dalam pengolahannya. Anda dapat membeli berbagai macam hidangan unik berbahan dasar salmon. Di antaranya ada Salmon Sakebitashi, dibuat dengan ikan salmon yang telah diawetkan selama setahun penuh; Dongara Stew, dibuat dengan tulang punggung salmon; Ham Salmon Kering; dan Salmon Ochazuke. Umur simpan produk bervariasi, tetapi Anda pasti akan bisa menemukan beberapa makanan tradisional yang ideal untuk dibawa pulang sebagai suvenir. Jangan lupa juga untuk mengambil gambar ruang belakang tradisional Kikkawa. Pemandangan 1.000 salmon yang digantung dan diawetkan di sini pasti akan membuat Anda terperanga.

Restoran Kikkawa: Izutsuya

Restoran Izutsuya milik Sennen-zake Kikkawa berspesialisasi dalam hidangan salmon. Awalnya, tempat ini berfungsi sebagai penginapan bagi para pelancong di zaman Edo (1603 - 1868). Bahkan, penyair Jepang terkenal Matsuo Basho dan murid-muridnya dikabarkan pernah menginap di sini. Bangunan Izutsuya sendiri merupakan Properti Budaya Berwujud. Pada bulan Maret 2017, melanjutkan legasi sebelumnya, bangunan tersebut kembali dibuka sebagai restoran yang menyajikan hidangan salmon musiman sepanjang tahun. 

Menu salmon di sini disajikan dalam gaya perjamuan yang mencakup 7 hingga 21 hidangan (1,950 yen - 5,900 yen), termasuk Salmon Asin dan Salmon Sakebitashi. Pata tamu juga dapat menikmati hidangan yang dibuat menggunakan bagian ikan yang jarang digunakan, seperti sperma, tulang punggung, jantung, rahang, dan kulit ikan. Silakan datang ke Izutsuya dan cobalah hidangan salmon unik yang dimasak dengan dedikasi terhadap tradisi lokal.

Restoran Daging Sapi Murakami: Edosho

Daging Sapi Murakami tidak boleh dilewatkan oleh para pecinta kuliner. Biasanya, daging sapi yang belum mencapai tingkat B4, A4, atau lebih tinggi, tidak disertifikasi sebagai Daging Sapi Murakami. Jika Anda ingin tahu kelezatannya, langkahkan kaki Anda ke Edosho untuk merasakan kualitas terbaik dari hidangan Daging Sapi Murakami.

Restoran yang dulu pernah berfungsi sebagai penginapan ini menghadirkan suasana tradisional. Jika datang ke Edosho, pastikan Anda mencoba Rare Steak Rice Bowl (2,750 yen, gambar di sebelah kiri). Bumbu ala Jepang-nya mengeluarkan rasa manis alami dari irisan tipis daging sapi yang lembut dan kaya dengan rasa gurih. Steak Rice Bowl menggunakan 60 gram Daging Sapi Murakami, dan teksturnya yang juicy sangat cocok disantap dengan berbagai jenis nasi Koshikari dari beras yang ditanam di Niigata. Hanya dalam sekali suap, Anda pasti langsung ketagihan!

Prefektur Yamagata

Gunung Haguro

Dewa Sanzan adalah sebutan untuk Tiga Gunung Dewa yang meliputi Gunung Haguro, Gunung Gassan, dan Gunung Yudono. Pada zaman Meiji (1868 - 1912), ketiganya merupakan shugendo, gunung yang digunakan oleh orang-orang sebagai tempat praktik pertapaan ketat untuk mendapat pencerahan. Praktisi di sini meyakini agama Shinbutsu-shugo, yang menggabungkan ajaran agama Shinto Jepang dan Buddhisme. Mereka menyembah gongen (disebut "kami" dalam bahasa Jepang), yang dalam agama ini diyakini sebagai manifestasi Buddha.

Ziarah ke Tiga Gunung Dewa disebut Higashi no Oku Mairi (Ziarah ke Pedalaman Timur), sedangkan ziarah ke Kuil Agung Ise disebut Nishi no Ise Mairi (Ziarah ke Ise Barat). Melakukan kedua ziarah tersebut dinilai sangat penting. Hingga kini, situs suci populer ini masih dikunjungi banyak penyembah dari seluruh Jepang dan wisatawan internasional yang tertarik dengan suasananya yang mengesankan.

Salah satu daya tarik istimewa yang wajib Anda kunjungi adalah Kuil Dewa Sanzan, yang terletak di puncak Gunung Haguro. Untuk bisa tiba di pagoda lima lantai yang seluruhnya terbuat dari kayu tanpa paku, Anda harus menyeberangi jembatan merah dari gerbang Zuishinmon yang berfungsi sebagai pintu masuk ke jalur puncak, melewati Sungai Haraigawa dan Air Terjun Suga ke titik pendakian Ichi no Saka. Pagoda tertua di wilayah Tohoku ini ditetapkan sebagai Harta Nasional pada tahun 1996. Di dekat pagoda lima lantai, Anda akan menemukan pohon purba yang disebut Jijisugi (cedar pria tua). Jijisugi sudah berusia ribuan tahun dan terdaftar sebagai monumen alam. Pada awalnya, Jijisugi ditemani pohon purba lain yang dinamai Babasugi (cedar wanita tua), tetapi sayang, pohon tersebut tumbang akibat topan yang terjadi di tahun 1902. Terlepas dari itu, pohon-pohon cedar besar yang berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh di sini, dan tangga pohon cedar yang fotogenik dianugerahi tiga bintang oleh Michelin Guide.

Ketika berjalan di gunung, Anda mungkin akan berjumpa dengan "yamabushi" (lihat foto di atas), biksu gunung berjubah putih, yang membawa terompet kerang tradisional. Perjalanan menyusuri jalur gunung dari gerbang Zuishinmon ke puncak membutuhkan waktu lebih dari satu jam, dengan 2.556 anak tangga. Konon, jika Anda melihat 33 anak tangga yang diukir dengan desain khusus seperti cangkir sake, keinginan Anda akan terkabul. Cobalah luangkan waktu untuk merilekskan tubuh dan pikiran Anda dengan energi alam di Gunung Haguro.

Gunung Haguro Sanrousho Saikan

Shojin-ryori adalah jenis makanan vegetarian umat Buddha yang didasarkan pada prinsip menghindari pengambilan nyawa apa pun. Di masa lalu, biksu-biksu gunung yamabushi di Dewa Sanzan yang datang untuk bermeditasi menjalani gaya hidup mandiri dengan memelihara dan memanen sayuran di gunung itu, lalu diawetkan menggunakan garam. Saikan (tempat untuk menjernihkan pikiran sebelum mengikuti upacara formal) di Gunung Haguro ini mengadopsi teknik memasak tersebut untuk menyajikan shojin-ryori dengan metode unik mereka sendiri.

Set Suzukaze-zen yang ditata indah (5,500 yen, harus dipesan H-3) dibuat untuk menyambut pengunjung dari seluruh penjuru negeri. Menu ini seolah membangkitkan gambaran kesejukan angin pegunungan yang bertiup melalui pohon cedar, seperti yang ditulis Matsuo Basho dalam puisinya, "Ah, udara sejuk dan bulat sabit di Gunung Haguro."

Anda juga bisa mememesan Tsuki Usagi Zen (2,200 yen), yang dimasak tanpa daging, telur, atau produk susu, untuk mencicipi cita rasa dari teknik memasak yang telah diturunkan dari generasi ke generasi, serta pengolahan yang berani dari Chef Itoshi dalam membuat shojin-ryori.

Gudang Beras Sankyo

Prefektur Yamagata dikelilingi oleh laut dan pegunungan. Selain gunung-gunung yang disebutkan di atas, di Yamagata juga terdapat Kota Sakata, yang terkenal sebagai kota pelabuhan penting di Jepang utara. Di Kota Sakata, ada situs berharga yang harus Anda kunjungi, yaitu Gudang Beras Sankyo. Dibangun pada tahun 1893, struktur gudang tersebut mampu melindungi beras dari hujan dan angin. Langkah-langkah penanggulangan iklim yang baik dan ketatnya standar penyaringan beras inilah yang menjadi salah satu rahasia kelezatan merek Beras Shonai.

Kini, bagian dalam Gudang Beras Sankyo digunakan sebagai museum. Tidak hanya memamerkan bahan-bahan dan alat yang berhubungan dengan beras, museum ini juga menampilkan foto-foto masa jaya Kota Sakata. Para pengunjung bahkan dapat membeli beras merek Yukiwakamaru dan Tsuyahime yang berkualitas tinggi.

Di depan gudang, Anda bisa melihat barisan pohon zelkova Jepang yang ditanam untuk melindungi gudang dari terpaan angin Laut Jepang dan sinar matahari langsung. Pohon-pohon tersebut menciptakan kontras yang indah dengan dinding gudang bergaya dozo-zukuri dan memberikan suasana yang mengesankan pada area sekitarnya. Gudang Beras Sankyo juga digunakan sebagai lokasi syuting untuk drama TV Jepang terkenal yang berjudul "Oshin". Saat berjalan-jalan di sini, Anda akan merasa seperti dibawa kembali ke masa lalu dalam nuansa nostalgia. Pastikan juga untuk mampir ke Sakata Yume no Kura untuk membeli beberapa suvenir!

Sannou Kurabu

Sannou Kurabu didirikan pada tahun 1895 sebagai restoran tradisional Jepang kelas atas, atau dikenal dengan ryotei, yang menjadi simbol kota pelabuhan Sakata. Bangunan Sannou Kurabu kini ditetapkan sebagai Properti Budaya Berwujud untuk melestarikan budaya ryotei Jepang di masa lalu. Dibuka untuk umum, tempat ini memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mempelajari tentang sejarah perkembangan Kota Sakata, para pedagang yang berkontribusi dalam pengembangan Sakata, budaya restoran, kuil Buddha dan Shinto, serta penulis dan seniman yang muncul berkat kesuksesan kota ini. Setiap ruang bangunan memiliki gaya yang berbeda, dan semuanya dipenuhi dengan pesona tradisional Sakata.

Daya tarik lain di Sannou Kurabu yang sayang untuk dilewatkan adalah pameran permanen Sakata Kasafuku, salah satu dari tiga jenis dekorasi gantung utama di Jepang, bersama dengan Izuinatori-tsurushikazari dan Fukuoka Yanagawa Sagemon. Kasafuku dibuat dari kain yang dijahit menggunakan tangan dengan penuh cinta dan doa oleh para pengrajin wanita. Kemudian, kasafuku digantung di payung sebagai jimat keberuntungan karena telah dikaruinai anak, kesehatan dan keselamatan, serta kebahagiaan keluarga. Aratana Kasafuku dengan 999 dekorasi gantung dan Kokasome no Kasafuku yang indah dibuat untuk meramaikan pameran ke-14 yang diselenggarakan tahun 2019 lalu. Jika suatu hari nanti Anda datang ke Yamagata, harap mengecek jadwal pameran untuk melihat Kasafuku yang ditampilkan!

Kedai Teh Somaro Maiko / Museum Takehisa Yumeji

Somaya adalah ryotei zaman Edo yang terkenal di Sakata. Setelah lama tutup, Somaya membuka kedai teh bernama Somaro, yang kemudian menjadi salah satu tempat wisata paling terkenal di daerah itu. Pada tahun 1996, bangunan tersebut terdaftar sebagai properti budaya.

Di tempat ini juga terdapat sebuah museum yang didedikasikan untuk karya penyair dan seniman, Takehisa Yumeji, seorang traveler yang mencari kebebasan tanpa terikat oleh siapa pun. Di dalam museum, Anda bisa melihat karya-karya lirisnya, termasuk "Yumeji shiki bijin", mahakarya tentang wanita cantik yang tercipta dari rasa estetisnya yang unik.

Bangunan ini masih mempertahankan desain arsitektur dari zaman Edo. Lantai pertama digunakan sebagai tempat istirahat, sedangkan lantai 2 yang luas menjadi tempat perjamuan untuk Anda menikmati makanan dan menyaksikan tarian maiko (Setiap hari pukul 12:00). Ada tiga jenis set makanan yang ditawarkan: Maiko Kaiseki Set (5,550 yen), Chirashi Sushi Set (5,000 yen), dan Deluxe Grilled Eel Set (8,000 yen). Kami jamin, Anda pasti puas dengan rasa tampilannya! Bagi Anda yang hanya ingin menonton pertunjukan maiko tanpa sajian makanan, datanglah pada pukul 14:00.

Museum Seni Homma

Museum Seni Homma dibangun pada tahun 1947 dengan tujuan untuk berkontribusi pada pengembangan seni dan membangkitkan semangat orang-orang yang putus asa setelah Perang Dunia II. Klan Homma dari Sakata di Prefektur Yamagata pada waktu itu dikenal sebagai pemilik tanah terbesar di Jepang. Vila mereka yang berusia 135 tahun kemudian dibuka untuk umum sebagai museum seni swasta pertama di Jepang. 

Pameran karya seni klasik dan modern sering diadakan di Museum Homma untuk membantu pembangunan di daerah tersebut, yang terus berlanjut hingga saat ini. Selain itu, para pengunjung dapat mengagumi keanggunan empat musim di Kakubu-en (Taman Bangau Menari). Mulai dari azalea putih di musim semi, tanaman hijau di musim panas, dedaunan berwarna cerah di musim gugur, hingga pemandangan salju di musim dingin. Ditambah dengan berbagai lentera batu yang menghiasi taman. Di sudut lain, Anda bisa melihat konstruksi kayu ala Kyoto dari Seienkaku Villa, yang pernah digunakan untuk menyambut anggota keluarga kekaisaran dan pejabat tinggi pemerintah. Para pengunjung juga dapat belajar lebih banyak tentang sejarah Sakai sambil menikmati minuman di kedai teh. Tidak heran, jika museum yang menggabungkan seni, sejarah, dan alam ini begitu dicintai.

Pasar Seafood Sakata

Berkembang sebagai kota pelabuhan sejak zaman Edo, Sakata menjadi hotspot untuk menikmati seafood segar. Di pasar Seafood Sakata yang bersebelahan dengan Pelabuhan Sakata, Anda bisa membeli aneka seafood yang baru ditangkap dari Pantai Shonai di lantai pertama. Namun, bagi yang ingin menikmati hidangan seafood lezat, silakan pergi ke restoran Kaisen-don-ya Tobishima di lantai dua.

Hanya dengan 1,000 yen, sajian Kaisen-don mewah yang terdiri dari 12-15 jenis seafood segar sudah bisa Anda nikmati. Ada pula berbagai menu lainnya yang siap memuaskan selera Anda, seperti Nakatoro-don (nasi tuna / 1,500 yen), Ikura-don (nasi telur ikan salmon / 2,300 yen), Uniikura-don (nasi bulu babi dan telur ikan salmon / 3,200 yen), dan kani-don (nasi kepiting / 1,200 yen). Satu menu yang juga patut disebutkan adalah Funamori-zen (1,000 yen), yang tersedia dalam jumlah terbatas setiap hari. Harga hidangan ini mungkin akan lebih mahal di tempat lain. Jadi, kami sangat merekomendasikan Anda untuk mampir ke Pasar Seafood Sakata saat berkunjung ke daerah tersebut. Terlebih lagi, Anda dapat melihat panorama pelabuhan Sakata yang indah dari balkon, dan jika cuaca pada malam hari cerah, pemandangan matahari terbenam di atas Laut Jepang yang memesona turut mengukir kenangan dalam memori Anda.

*semua harga yang tercantum belum termasuk pajak dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Bankokuya

Ingin menikmati makanan lezat sambil mengagumi pemandangan indah? Bankokuya tempatnya. Memiliki sejarah lebih dari 300 tahun, Bankokuya dipilih oleh para ahli sebagai salah satu dari 100 Hotel dan Ryokan Terbaik di Jepang selama 38 tahun berturut-turut sejak 1981. Pada tahun 2019, Bankokuya menempati posisi ke-11 dalam peringkat keseluruhan. Penginapan tua ini telah lama populer di kalangan penulis dan seniman di masa lalu, serta wisatawan dari seluruh Jepang.

Begitu masuk ke dalam, suasana tenang lobi yang terbuat dari kayu dan dekorasi bunga musiman yang berwarna-warni menyambut kedatangan Anda. Dari kamar, Anda dapat mengamati pemandangan indah sambil diiringi lembutnya suara sungai yang mengalir. Pepohonan hijau nan sejuk di sekitarnya pun menciptakan suasana yang sempurna untuk bersantai. Berendam di onsen yang dikelilingi oleh keindahan alam juga akan membantu menyegarkan tubuh dan jiwa hingga membuat Anda melupakan waktu.

Setelah memulihkan diri, sekarang waktunya memuaskan rasa lapar Anda dengan menikmati makan malam bertema "rakuzan rakusui", yang berarti "gunung dan air yang menenangkan". Semua hidangan yang disajikan dibuat dari bahan-bahan lokal, seperti ikan musiman dari Laut Jepang, Kuroge Wagyu berkualitas tinggi dan daging sapi Yamagata, serta sayuran pegunungan yang dipanen di daerah tersebut. Dengan berendam di mata air panas berkualitas, membenamkan diri di alam yang kaya, dan menikmati hidangan lezat, Anda akan mengerti mengapa Bankokuya difavoritkan banyak orang sejak dulu.

SHONAI HOTEL SUIDEN TERRASSE

Tidak hanya terkenal dengan ryokan tradisional Jepangnya, Yamagata juga memiliki penginapan bergaya modern! Terletak di antara sawah, tampilan mengesankan SHONAI HOTEL SUIDEN TERRASSE yang tampak seperti galeri seni menciptakan kontras yang indah antara lanskap pedesaan dan arsitektur modern. Tergantung pada kondisi cuaca, sawah di sekitar hotel terkadang berubah menjadi cermin besar yang memantulkan bangunan dan awan di sekitarnya, mengingatkan kita pada Salar de Uyuni (padang garam di Bolivia).

SHONAI HOTEL SUIDEN TERRASSE dirancang oleh arsitek Shigeru Ban dengan keahliannya khasnya menggunakan kayu dan tabung karton. Meskipun tetap mempertahankan lanskap pedesaan, arsitektur hotel juga dibuat untuk memikat para tamunya dengan pemandangan indah. Salah satunya adalah koridor udara yang memanjang dari kamar tamu dan didesain untuk memberikan efek mengambang di atas air.

Pemandian umum besar di hotel ini diambil dari kedalaman 1.200 meter di bawah tanah dan bertempat di sebuah kubah yang tampak seperti mengapung di atas sawah, menghadirkan suasana dan dimensi berbeda bagaikan di pesawat ruang angkasa. Berendam di mata air yang mengandung mineral seperti natrium dan kalsium sulfat akan membuat Anda merasa seperti terlahir kembali. (Pemandian udara terbuka hanya untuk pria. Pemandian untuk wanita memiliki jendela atap)

Sarapan prasmanan yang disediakan berfokus pada masakan Jepang. Parta tamu dapat menikmati berbagai bahan khas Yamagata, mulai dari nasi Shonai, ayam herba Yamagata, ham ayam, hingga acar makarel ala saikyo dari Shonai.

Prefektur Akita

Kisakata-Nemunooka

Nemunooka adalah stasiun pinggir jalan (michi no eki) yang terletak di Kisakata. Stasiun seluas 65.000 meter persegi ini merupakan yang terbesar di wilayah Tohoku, dan di dalamnya terdapat toko suvenir, restoran, bahkan pemandian air panas berpemandangan Laut Jepang yang indah. Nemunooka tidak hanya terkenal sebagai tempat peristirahatan bagi para pelancong, tetapi juga merupakan tempat rekreasi penduduk setempat.

Tidak berlebihan pula untuk mengatakan bahwa Anda akan menemukan segala jenis suvenir Akita di sini, termasuk kiritanpo (pangsit beras panggang berbentuk silinder) dan mi udon inaniwa yang tipis dan pipih. Pemandian air panas di lantai empat menawarkan kesempatan kepada para pengunjung untuk menikmati pemandangan Laut Jepang sambil berendam di air penuh mineral yang dapat melembabkan dan merawat kulit. Dek observasi gratis (buka pukul 09:00 - 21:00) juga menyajikan pemandangan Laut Jepang di sisi Barat, Gunung Chokai yang terkenal, kawasan Kisakata yang dilindungi, dan Pulau Kujuku.

Setelah membeli oleh-oleh, bersantai di pemandian air panas, dan menikmati pemandangan indah, jangan lupa untuk berjalan-jalan di salah satu dari 100 Jalur Berpemandangan Matahari Terbenam Terbaik di Jepang. Pemandangan matahari terbenam di atas Laut Jepang yang terlihat dari alun-alun rumput pasti akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan.

Penulisan artikel ini bekerja sama dengan The Sea of Japan Kirakira Uetsu Tourism Area Promotion Association.

Website (bahasa Jepang): https://discoveruetsu.com/

Website (bahasa Inggris): https://discoveruetsu.com/en/introduction/

 

Jika Anda ingin memberikan komentar pada salah satu artikel kami, memiliki ide untuk pembahasan yang ingin Anda baca, atau memiliki pertanyaan mengenai Jepang, hubungi kami di FacebookTwitter, atau Instagram!

The information in this article is accurate at the time of publication.

Cari Restoran