Kominka: Temukan Keindahan Abadi di Rumah Tradisional Jepang

Kominka, rumah-rumah tradisional Jepang yang indah, umumnya ditemukan di daerah pedesaan Jepang. Dibangun menggunakan teknik desain yang inventif, tetapi berguna, kominka kerap kali dijadikan tempat kerja sekaligus rumah. Ukurannya yang besar dimaksudkan untuk mengakomodasi beberapa fungsi. Sebagian besar kominka masih berdiri kokoh hingga saat ini berkat teknik pembangunan yang terampil dan penggunaan bahan-bahan berkualitas tinggi. Itulah mengapa rumah tradisional ini dapat bertahan dari gempa bumi dan bencana alam lainnya. Kini, kominka telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya Jepang dan menjadi contoh arsitektur tradisional Jepang yang luar biasa. Pada artikel ini, kami akan menjelaskan seluk-beluk kominka, mengeksplorasi sejarah dan karakteristiknya, serta memperkenalkan tempat-tempat di Jepang yang masih terdapat kominka.

Seluruh Jepang

Budaya Jepang

Apa Itu Kominka?

Kata "kominka" secara harafiah berarti "rumah tua", dan istilah ini umumnya diterapkan untuk rumah tradisional Jepang gaya tertentu yang dibangun sebelum Perang Dunia II. Kominka dibangun seluruhnya menggunakan bahan-bahan alami, seperti kayu, tanah liat, jerami, dan biasanya memiliki beberapa prinsip desain khusus.

Karakteristik kominka yang paling menonjol adalah atap jerami besarnya yang miring. Interior rumah tradisional ini pun menyimpan sejumlah keunikan. Sering dihuni oleh pedagang dan petani, kominka tidak hanya dirancang sebagai tempat kerja sekaligus rumah keluarga, tetapi juga harus multifungsi, berguna, dan nyaman.

Sejarah Kominka

Kominka paling awal dibangun lebih dari 300 tahun yang lalu dan dapat ditelusuri kembali ke zaman Edo (1603 - 1868). Rumah-rumah tradisional Jepang yang indah dan multifungsi ini banyak ditemukan di kota-kota kecil dan daerah pedesaan di seluruh Jepang. Keajaiban arsitekturnya dirancang untuk bertahan di setiap musim, dari musim dingin yang ganas hingga suhu tinggi di musim panas.

Rumah tradisional Jepang juga membutuhkan ruang penyimpanan dan area yang dapat digunakan sebagai etalase. Biasanya, kominka menjadi tempat tinggal pengrajin, petani, pedagang, atau keluarga kaya karena interior serbaguna dari rumah tradisional ini bisa digunakan untuk berbisnis atau sebagai toko untuk menjual barang.

Meskipun memiliki banyak karakteristik, kominka dibangun dengan berbagai variasi regional dan gaya tergantung pada iklim di daerah tersebut. Misalnya, kominka yang dibangun di Hokkaido atau Aomori di utara Jepang dirancang untuk menahan hujan salju dalam jumlah besar setiap musim dingin. Di sisi lain, kominka di daerah yang lebih dekat dengan garis pantai atau daerah rawan topan dibuat lebih kuat untuk mengatasi angin kencang yang berbahaya.

Karakteristik Tradisional Kominka

Kominka memiliki fitur desain yang inventif, tetapi sangat sederhana. Semua disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga serta geografi dan iklim.

Struktur yang sangat kokoh dan kerangka besar rumah tradisional ini terbuat dari balok kayu tebal. Balok kayu tersebut dibuat dari batang pohon ek atau cypress besar yang usianya mencapai 200 tahun. Kominka dibangun oleh pengrajin ahli dan pekerja bangunan yang mengembangkan teknik menyatukan potongan-potongan kayu seperti puzzle tanpa satu pun paku.

Dari luar, kominka sangat mudah dikenali dari atap jeraminya yang tebal. Atap yang dibingkai seperti huruf A tersebut merupakan karakteristik paling mencolok dari arsitektur rumah tradisional Jepang. Strukturnya yang dibuat curam dimaksudkan untuk melindungi rumah dari salju tebal selama musim dingin dan menahan panas matahari saat musim panas. Membangun atap yang menakjubkan ini tidaklah mudah karena perlu direkonstruksi kembali setiap 20 - 30 tahun.

Fitur Khas Rumah Tradisional Jepang

Interior kominka sengaja didesain sangat multifungsi agar bisa memainkan beberapa peran berbeda. Meskipun desainnya dibuat sefleksibel mungkin, kominka tetap dilengkapi fitur-fitur umum.

Di pintu masuk rumah tradisional Jepang terdapat "doma", yakni area serbaguna dengan lantai beton yang berfungsi sebagai penghubung antara bagian dalam dan luar rumah. Lantai beton pada doma dapat dimanfaatkan untuk dapur atau tempat kerja ketika cuaca lembab atau dingin. Ada pula yang menggunakan doma sebagai ruang toko untuk berdagang.

Di tengah rumah Anda akan menemukan "irori", perapian terbuka yang menyebarkan panas ke seluruh bagian rumah serta digunakan sebagai kompor. Ketel berisi air biasanya digantung di tali yang diikat di langit-langit di atas perapian. Ketika dipakai untuk memasak, keluarga Jepang akan makan atau menyambut tamu dengan duduk mengelilingi perapian. Lantai rumah tradisional Jepang sering kali dilapisi tikar tatami, dan selain doma, lantai dasarnya dibangun pada ketinggian sekitar setengah meter dari tanah. Hal ini memungkinkan perapian dibuat masuk ke dalam lantai agar bagian permukaannya sejajar dengan tatami (lihat gambar) dan memanfaatkan ruang kecil di bawah rumah.

Mulanya kominka ditempati oleh keluarga besar. Beberapa rumah bahkan terdiri dari empat hingga lima lantai dan ada tambahan ruang untuk kuda atau sapi. Namun, biasanya dinding internal di dalam rumah tradisional Jepang sangat sedikit. Sebagai gantinya, kamar-kamar dipisahkan dengan partisi geser yang disebut "shoji" dan "fusuma". Penggunaan partisi geser memberikan fleksibilitas pada ruang dan memungkinkan kominka menjadi sangat pragmatis dan multifungsi. Dengan membuka shoji atau fusuma, sebuah ruangan bisa berukuran dua kali lipat atau tiba-tiba memiliki bentuk yang berbeda sehingga dapat digunakan untuk kepentingan yang berbeda pula.

Banyak dari rumah tradisional Jepang juga menampilkan "engawa" atau koridor luar yang melingkari eksterior rumah. Jika partisi geser dibuka ke arah engawa, penghuni dapat berpindah ke bagian lain dari rumah tanpa harus melewati ruangan lain.

Sementara itu, loteng di bawah atap kominka yang sangat besar sering kali digunakan untuk budidaya ulat sutra, khususnya pada farmhouse. Hawa panas yang naik ke atas menyediakan lingkungan yang sempurna untuk membudidayakan ulat sutra dan hasilnya dipakai untuk memproduksi sutra. Kemudian, sutra digunakan untuk membuat pakaian yang juga menjadi komoditas berharga.

Penurunan Jumlah Rumah Tradisional Jepang

Selama beberapa dekade terakhir, jumlah kominka di Jepang telah menurun. Menyusul pesatnya industrialisasi Jepang setelah Perang Dunia II, banyak dari generasi muda yang meninggalkan daerah pedesaan dan pekerjaan pertanian tradisional untuk mencari pekerjaan yang dibayar lebih baik dan tidak terlalu mengandalkan fisik. Mereka lalu mencoba peruntungan di industri-industri baru di kota-kota besar. Diyakini bahwa ada sekitar 120.000 kominka yang tersisa saat ini.

Migrasi kaum muda ke kota-kota telah menyisakan populasi orang tua di banyak daerah pedesaan di Jepang. Dalam kebanyakan kasus, tidak jarang rumah kominka membebani anggota keluarga yang mewarisinya dari orang tua mereka. Itu karena properti di Jepang biasanya memiliki nilai jual yang sangat kecil. Sebaliknya, tanah yang ditempati rumah adalah aset, dan tanah akan jauh lebih berharga jika ada rumah (beserta isinya) yang berdiri di atasnya.

Properti yang diwariskan kepada anggota keluarga yang lebih muda sering tidak diklaim. Hal itu disebabkan tingginya tanggungan biaya pembongkaran rumah dan pajak warisan yang harus dibayar ketika mengambil hak kepemilikan rumah. Akibatnya, tidak sedikit rumah tradisional Jepang yang dibiarkan tidak berpenghuni dan rusak, bahkan sampai pada titik rumah tersebut hampir runtuh.

Penemuan Kembali Rumah-Rumah Kominka di Jepang

Dalam beberapa tahun terakhir, ada peningkatan apresiasi terhadap kominka di Jepang, serta upaya bersama untuk melestarikan dan merawat yang tersisa. Kominka kemudian semakin dihargai sebagai contoh indah arsitektur tradisional Jepang dan dikagumi tidak hanya karena keindahannya, tetapi juga daya tahannya. Lokasi kominka berada umumnya jauh di dalam pedesaan yang memesona. Artinya, rumah tradisional dianggap sebagai tempat pelarian yang sempurna dari kesibukan sehari-hari di kota.

Terlepas dari usianya, rumah-rumah tradisional Jepang menunjukkan kehebatan teknik pembangungan di masa lalu dan terbukti sangat tangguh. Seperti yang telah disebutkan di atas, properti dinilai rendah di Jepang, termasuk rumah baru. Ada pepatah umum yang mengatakan bahwa rumah di Jepang hanya mampu bertahan selama 30 tahun karena rumah modern tidak dibangun untuk ditinggali lebih dari satu generasi. Namun, banyak kominka yang masih berdiri selama 200 - 300 tahun sejak pertama kali dibangun. Desainnya yang sederhana, tetapi cermat dapat menyelamatkan rumah tradisional Jepang dari berbagai bencana alam, termasuk gempa bumi yang kerap melanda dalam beberapa ratus tahun terakhir.

Kini, muncul berbagai kelompok dan bisnis pelestarian yang berupaya merestorasi dan menggunakan kembali rumah tradisional Jepang. Menyadari pentingnya budaya dan potensi besar yang dimilikinya karena dibangun dengan baik, apresiasi terhadap kominka kembali bangkit dari generasi muda. Mereka ingin memulai kehidupan baru di dalam rumah bersejarah ini.

Anda dapat menemukan sejumlah besar kominka di seluruh negeri yang telah direnovasi dan direstorasi menjadi kafe, restoran, dan hotel. Beberapa di antaranya bahkan dibeli dan direnovasi untuk ditempati sebagai rumah keluarga modern. Namun, mengingat biaya untuk membeli kominka, merenovasi, dan profit yang hampir tidak ada, semua dilakukan hanya berdasarkan kecintaan bagi orang yang sanggup membelinya. Akan tetapi, mereka bisa tinggal di rumah yang indah, bersejarah, dan luas di daerah pedesaan yang menakjubkan. Ditambah lagi, daya tahan kominka juga sangat luar biasa.

Tempat Untuk Melihat Kominka di Jepang

Masih terdapat banyak tempat di Jepang yang bisa Anda kunjungi untuk melihat keindahan arsitektur kominka. Berikut adalah beberapa di antaranya.

Shirakawa dan Gokayama

Sejauh ini, kominka paling terkenal berada di area pemukiman Shirakawa di Prefektur Gifu dan Gokayama di Prefektur Toyama. Kedua daerah tersebut memiliki sejumlah desa dengan rumah-rumah tradisional Jepang yang indah. Atap jerami yang curam dikenal sebagai gaya "gassho-zukuri" karena bentuknya menyerupai dua tangan yang saling bersentuhan membentuk huruf A. Tujuannya agar salju mudah turun dari atap.

Shirakawa dan Gokayama ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO karena sejumlah kominka yang berdiri di antara lanskap desa spektakuler terlihat sangat menawan. Bahkan, banyak di antaranya yang sudah berusia lebih dari 300 tahun. Keduanya sangat indah selama musim dingin, terutama ketika kominka diselimuti salju tebal hingga beberapa kaki.

Ouchijuku

Kota kecil lain yang terkenal dengan rumah tradisional Jepang dari zaman Edo yang menawan adalah Ouchijuku di Prefektur Fukushima. Pada zaman Edo, Ouchijuku berkembang sebagai kota pos yang menaungi sejumlah restoran dan penginapan. Kota-kota pos digunakan untuk tempat beristirahat oleh para pelancong yang lelah menempuh perjalanan. Kini, jalan-jalan di Ouchijuku dipenuhi kominka yang terpelihara dengan indah. Museum Kota Ouchijuku, yang bertempat di dalam bekas penginapan megah, memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat seperti apa interior kominka di zaman Edo.

Miyama Kayabuki no Sato

Sekitar 30 kilometer dari Kyoto terdapat Miyama Kayabuki no Sato, sebuah desa tua nan indah yang memiliki 40 rumah tradisional Jepang. Meskipun agak sulit dijangkau, hampir semua kominka di sini masih berupa rumah pribadi. Saat berjalan-jalan di desa yang tenang ini, Anda akan merasa seperti melangkah mundur ke masa lalu. Anda juga dapat menjelajahi interior kominka di Miyama Kayabuki no Sato Folk Museum yang ditata dengan gaya tradisional zaman Edo.

Nihon Minka-en

Di Nihon Minka-en di Kanagawa, yang berlokasi tepat di selatan Tokyo, Anda bisa melihat banyak koleksi rumah tradisional Jepang yang terawat dengan baik. Di sini terdapat sejumlah kominka mengesankan yang telah direlokasi dari kota-kota dan desa-desa di seluruh Jepang, dalam upaya melestarikannya. Setiap rumah dipulihkan dengan hati-hati dan direkonstruksi menggunakan gaya aslinya agar dapat mencerminkan bagaimana rumah tersebut terlihat dan digunakan di lokasi sebenarnya.

Pesona Masa Lalu yang Dibangkitkan untuk Jepang Modern

Berkat ketangguhan dan keindahannya, rumah tradisional Jepang kembali diminati. Dibangun untuk tempat kerja dan rumah keluarga yang ideal, serta kemampuannya bertahan di segala iklim pedesaan yang keras, kominka dihargai sebagai contoh spektakuler arsitektur klasik Jepang. Di berbagai daerah di seluruh Jepang, rumah-rumah ini telah menjalani kehidupan baru dan dipersiapkan untuk abad 21 sebagai hotel, home-stay, dan kafe. Membuka peluang bagi generasi Z untuk jatuh cinta pada pesona masa lalu yang melekat di dalam kominka.

Kredit gambar judul (kiri ke kanan): Kat KTM / Shutterstock.com, Javarman / Shutterstock.com


Jika Anda ingin memberikan komentar pada salah satu artikel kami, memiliki ide untuk pembahasan yang ingin Anda baca, atau memiliki pertanyaan mengenai Jepang, hubungi kami di Facebook!

The information in this article is accurate at the time of publication.

Cari Restoran