Lezat dan Nikmat! Daftar Masakan Tradisional Jepang dari 47 Prefektur

Sushi, tempura, shabu-shabu, sukiyaki, ramen... adalah segelintir masakan terkenal yang merepresentasikan Jepang. Namun, tahukah Anda bahwa masih ada begitu banyak masakan lezat khas daerah dari seluruh Jepang yang belum dikenal oleh dunia? Penasaran? Berikut kami perkenalkan beberapa masakah daerah dari 47 prefektur di Jepang yang pasti harus Anda coba!

Seluruh Jepang

Kuliner

1. Jingisukan (Hokkaido)

"Jingisukan" adalah hidangan khas lokal dari Hokkaido yang dibuat dengan daging domba atau kambing dan sayur-sayuran yang dimasak dalam kuali. Di masa lalu, pembiakan domba dilakukan di Hokkaido, dan hasilnya digunakan untuk keperluan militer. Namun, setelah perang, hasil tersebut digunakan sebagai bahan makanan hingga terciptalah hidangan ini. Bumbu dan metode penyajian jingisukan berbeda di setiap restoran, jadi pastikan untuk mencoba sebanyak mungkin sebisa Anda!

2. Towada Bara Yaki (Aomori)

Pada hidangan ini, bawang bombay ditumpuk di atas daging iga sapi yang dibumbui dengan saus manis-asin, kemudian dipanggang sampai warna bawang bombay berubah sedikit kekuningan. Towada bara yaki awalnya dibuat pada tahun 1950-an di dekat pangkalan militer AS di Kota Misawa, lalu menyebar ke kota tetangganya, Towada. Kini,  towada bara yaki sudah menjadi sangat populer dan disajikan di lebih dari 80 restoran di Towada! Keseimbangan istimewa dari rasa manis dan pedas menjadikannya kombinasi yang ideal dengan bir.

3. Morioka Reimen (Iwate)

"Morioka Reimen" dianggap sebagai salah satu dari tiga hidangan mi terlezat di Kota Morioka, bersama dengan "Wanko Soba" (mi yang disajikan dalam porsi kecil) dan "Jajamen" (mi dengan timun dan saus daging miso). Bahan-bahan, seperti kimchi, timun, telur rebus, dan buah-buahan diletakkan di atas mi. Kemudian, sup pedas yang terbuat dari kaldu daging sapi dan ayam dituangkan di atasnya, yuum..

Resep hidangan idaman pasca perang ini diyakini dibuat oleh seorang ahli mi dari korea yang ingin menghidupkan kembali rasa khas dari tempat kelahirannya. Alih-alih menggunakan tepung gandum kuda (soba) yang biasa digunakan untuk "reimen" Korea, ia justru menggunakan tepung gandum biasa dan menghasilkan mi semi-transparan yang ada sekarang.

4. Gyu Tan Yaki (Miyagi)

Gyu Tan Yaki, hidangan irisan lidah sapi yang dibumbui dengan garam atau saus. Masakan dari masa pasca perang Jepang ini muncul ketika konsumsi daging mulai meluas. Meskipun dulunya dikenal sebagai masakan khas yang unik dari Sendai, Gyu Tan Yaki berhasil memikat banyak orang dan menjadi populer hingga ke seluruh negeri berkat kelezatan rasa, kandungan protein yang tinggi, dan kadar lemaknya yang rendah. Kini, ada banyak restoran yang menyajikannya bersama sup buntut sapi.

5. Kiritanpo (Akita)

Kiritanpo dibuat dengan membungkus nasi di sekitar tusuk kayu dan memanggangnya di atas api arang. Hidangan ini diyakini dibuat oleh penebang kayu dari wilayah Odate dan Hokuroku. Mereka mencetak sisa nasi pada stik panjang, membumbuinya dengan miso, lalu memanggangnya.

"Kiritanpo Nabe" terdiri dari jidori (ayam lokal), maitake (sejenis jamur), shironegi (sejenis daun bawang), gobo (akar tanaman burdock), dan seri (sejenis parsley). Sangat cocok untuk musim dingin di Akita.

6. Imo-ni (Yamagata)

Bahan-bahan yang sering digunakan pada Imo-ni (hidangan hot pot talas) adalah konnyaku, daun bawang, jamur, gobo, dan daging. Namun, variasi bahan-bahannya dapat berbeda di setiap prefektur. Orang-orang di daerah pedalaman biasanya menggunakan daging babi dan sup kecap asin, sementara di daerah pantai utara kebanyakan menggunakan daging babi dan sup miso.

Membuat tungku di tepi sungai sambil memasak imo-ni secara berkelompok selama masa panen talas adalah tradisi yang dilakukan di Prefektur Yamagata pada musim gugur.

7. Kitakata Ramen (Fukushima)

Bahan utama Kitakata Ramen adalah mi tebal dan bergelombang, sedangkan bahan-bahan lain serta supnya (umumnya kecap asin) dapat bervariasi. Asal usul masakan ini kabarnya berasal dari seorang pemuda Cina yang biasa menjual "Shina Soba" (mirip hidangan mi) di kios kelilingnya. Seiring berjalannya waktu, hidangan tersebut berkembang menjadi Kitakata Ramen.

Sejak dulu, banyak wisatawan dari seluruh negeri datang ke Kota Kitakata untuk mengambil foto bangunan tradisional pabrik kecap asin, miso, dan sake. Hasilnya, "Kitakata Ramen" menjadi dikenal luas dan kota ini pun memiliki restoran ramen terbesar di Jepang.

Gunakan kesempatan Anda untuk menikmati keunikan budaya "ramen pagi' di kota Kitakata dengan mengunjungi salah satu dari sekian banyak restoran yang buka pada pukul 7 pagi!

8. Mito Natto (Ibaraki)

Natto (kedelai fermentasi), produk fermentasi utama di Jepang yang jumlahnya sangat sedikit. Kota Mito di Prefektur Ibaraki adalah salah satu produsen utama kedelai kecil, dan lebih dari setengah jumlah natto yang dijual di Jepang berasal dari sana.

"Mito Natto" secara khusus mendapatkan popularitasnya setelah pembukaan jalur kereta api di Ibaraki pada tahun 1889. Ketika stasiun lokal pertama dibuka, natto dijual di alun-alun di depan stasiun. Namun, begitu mulai dijual sebagai suvenir di peron stasiun, natto menjadi sangat populer. Bahkan, para penumpang kereta berlomba-lomba mengulurkan tangan mereka dari jendela untuk membeli natto!

9. Utsunomiya Gyoza (Tochigi)

Pasukan tentara yang ditempatkan di Kota Utsunomiya selama perang dikirim ke bagian timur laut Cina. Ketika kembali ke Jepang, mereka membuka restoran gyoza dengan menciptakan kembali cita rasa yang mereka makan di Cina hingga akhirnya menjadi sangat populer di kalangan penduduk kota. Utsunomiya kemudian dijuluki sebagai "kota gyoza". Saat ini, ada lebih dari 200 toko dan restoran yang menyajikan gyoza di Utsunomiya. Bahkan, jumlah uang yang dikeluarkan oleh setiap rumah tangga di sana untuk membeli gyoza adalah yang tertinggi di Jepang!

 

Berbeda dengan gyoza biasa yang menggunakan banyak daging dan bawang putih, "Utsunomiya Gyoza" mengutamakan penggunaan sayur-sayuran, dan semakin terasa menyegarkan jika dikombinasikan dengan cuka dan minyak cabai.

10. Mizusawa Udon (Gunma)

Memiliki sejarah lebih dari 400 tahun, "Mizusawa Udon" merupakan salah satu hidangan udon yang terkenal, bersama dengan Sanuki Udon" dari Prefektur Kagawa, "Inaniwa Udon" dari Prefektur Akita, "Goto Udon" dari Prefektur Nagasaki, dan "Himi Udon" dari Prefektur Toyama. Kabarnya, hidangan ini berawal dari udon buatan tangan yang biasa dijual kepada pengunjung di sekitar Kuil Mizusawa di Ikaho, Prefektur Gunma. Di sana terdapat "Jalan Mizusawa Udon" yang dipenuhi dengan 13 restoran udon. 

 

Mi-nya yang memiliki tekstur tebal dan kenyal dibuat dengan tepung, garam, dan air dari Mizusawa. Jika Anda berkesempatan mengunjungi salah satu restoran di sepanjang jalan Mizusawa Udon, cobalah udon dingin di atas piring bambu yang disebut "zaru", dengan saus celup wijen atau kecap asin!

11. Hiyajiru Udon (Saitama)

Hiyajiru Udon adalah hidangan rumahan yang disukai oleh banyak orang dan disantap pada musim panas di kota-kota di Prefektur Saitama, seperti Omiya, Kawagoe, dan Kazo. Hidangan ini dibuat dengan memasukkan wijen giling, miso, dan gula ke dalam "tsuyu" (sup kecap asin), dan dikombinasikan dengan air dingin atau "dashi" (kaldu). Kemudian, mi dicelupkan ke dalam sup dan diberi topping jahe serta mentimun.

12. Namero (Chiba)

"Namero" - hidangan tradisional dari Semenanjung Boso, dibuat dengan tiga irisan ikan, seperti makarel, sauri, dan sarden. Ketiga irisan ikan tersebut kemudian dicincang dan ditumbuk bersama dengan miso, daun bawang, aojiso (sejenis tanaman perilla), serta jahe. Kabarnya, Namero tercipta dari nelayan yang menggunakan sisi belakang pisau untuk menumbuk daging ikan, tulang, dan sebagainya, agar makanan dapat cepat jadi. Nama "Namero" itu sendiri merujuk pada pepatah yang mengatakan, "Begitu enaknya sampai kamu menjilati ("nameru" dalam bahasa Jepang) piring setelah makanan itu habis!"

13. Monjayaki (Tokyo)

Hidangan tradisional dari Tokyo ini disajikan di atas piring besi dan disantap menggunakan spatula kecil. Monjayaki dibuat dengan mencampurkan berbagai bahan, seperti seafood, sayuran, dan tepung yang dilarutkan dalam air. Pertama-tama, masak semua bahan terlebih dahulu (seafood dan sayuran). Setelah matang, bentuklah seperti kue donat sehingga adonan (tepung yang dilarutkan dalam air) dapat dituangkan di tengahnya. Saat adonan mulai padat, campurkan dengan bahan-bahan dipinggirnya hingga menyatu, dan selesai!

"Monjayaki" merupakan hidangan yang sangat populer di Tsukushima, kawasan bisnis yang masih menjadi bagian dari Tokyo. Di sana terdapat "Jalan Monja", sebuah area yang dipenuhi lebih dari 70 restoran monjayaki.

14. Shirasu-don (Kanagawa)

Daerah Shonan di Prefektur Kanagawa adalah salah satu tempat utama untuk memancing ikan teri ("shirasu"). Banyak orang yang suka menikmati ikan teri segar di sini, dan mengunjungi tempat-tempat wisata di dekatnya seperti Enoshima dan Kamakura. Anda bahkan dapat mencoba "Shirasu-don" mewah - semangkuk nasi dengan topping shirasu (segar atau dimasak) yang ditangkap di hari itu! Harap dicatat bahwa memancing ikan teri dilarang pada bulan Januari hingga Maret setiap tahun, jadi ikan teri segar tidak bisa disajikan pada bulan-bulan tersebut.

15. Hegi Soba (Niigata)

"Hegi Soba" adalah sejenis soba (mi gandum kuda) yang dihidangkan dingin di atas piring kayu berbentuk persegi yang disebut "hegi". Mi-nya dibuat dari tanaman "funori" atau dikenal dengan tanaman glueweed, yang memberikan tekstur lebih kuat. Ketika hidangan ini pertama kali diperkenalkan di daerah Uonuma di Jepang, wasabi tidak tersedia, sehingga karashi (mustard Jepang) dan daun bawang cincang digunakan sebagai penggantinya untuk memberi rasa pada mi. Menghidangkan mi dengan cara ini menjadi tradisi di Prefektur Niigata.

16. Ramen Hitam Toyama Black (Toyama)

Sesuai dengan namanya, "Ramen Hitam Toyama" adalah sejenis ramen dengan sup hitam dari kecap asin yang diberi banyak lada. Ramen ini dibuat untuk memberikan asupan natrium kepada para pekerja yang tidak kenal lelah membangun kembali Kota Toyama setelah serangan udara pada tahun 1945. Menma (rebung yang sudah difermentasi) asin dan pedas dengan irisan tebal char siu (daging babi yang direbus) membuat ramen ini sangat cocok disantap bersama nasi. Cita rasa khasnya sungguh memberikan kelezatan yang tidak tertahankan!

17. Nodoguro (Ishikawa)

Nama "Nodoguro" (sejenis ikan rockfish) berasal dari kombinasi kata "tenggorokan" (nodo) dan hitam (kuro/guro). Itu dapat dilihat dari warna hitam di dalam mulutnya. Ikan ini banyak didapatkan di pantai-pantai Prefektur Ishikawa dan bernilai tinggi, karena rasanya lezat serta bernutrisi. Bahkan, harganya melebihi ikan kakap merah dan ikan olive flounder!

 

Nodoguro lebih enak disajikan sebagai sashimi, tetapi nodoguro rebus atau asin juga memiliki cita rasa yang tidak kalah nikmat. Di sisi lain, nodoguro kering, memiliki rasa yang lebih kuat dan cocok dijadikan suvenir. September dan Oktober adalah bulan terbaik jika Anda ingin menikmati nodoguro.

18. Saba Sushi (Fukui)

"Saba Sushi" dibuat dengan mencetak nasi sushi menjadi bentuk persegi panjang, lalu setengah irisan ikan makarel (saba) diletakkan di atasnya. Setelah dibentuk dengan rapi menggunakan tikar bambu atau kain, sushi dibungkus dengan kombu (sejenis rumput laut) dan daun bambu. Kota Obama di Prefektur Fukui yang merupakan rumah dari hidangan ini adalah titik awal munculnya "Jalan Saba". Jalan itu digunakan untuk mengirim ikan dari Laut Jepang ke Prefektur Kyoto, yang tidak memiliki pantai. Anda bisa mencoba berbagai versi "Saba Sushi" seperti "Shime Saba Sushi" (dengan cuka) dan "Yaki Saba Sushi" (panggang) untuk menemukan rasa favorit Anda!

19. Hoto (Yamanashi)

"Hoto", hidangan hot pot yang mengombinasikan mi tipis dan lebar dengan sayur-sayuran, seperti labu, daun bawang, dan shiitake (sejenis jamur) dalam sup rasa miso. Dikatakan bahwa komandan samurai bernama Takeda Shingen memakan hidangan ini di medan perang selama periode Sengoku (1467 - 1600) di Jepang. Kemudian, "Hoto" menjadi makanan pokok bagi golongan petani, serta sebagai alternatif pengganti nasi ketika beras menjadi langka dan setelah Perang Dunia II. Kini, "Hoto" dianggap sebagai hidangan tradisional dari Prefektur Yamanashi.

20. Shinshu Soba (Nagano)

Prefektur Nagano telah sejak lama menjadi pembudidaya tanaman buckwheat (soba/gandum kuda), yang populer karena ketahanan tanaman terhadap suhu dataran tinggi yang dingin. Soba sebagai bahan makanan diperkenalkan oleh murid biksu yang membawa biji buckwheat untuk dikonsumsi. Tepung dari biji-bijan itu diremas dan direbus menjadi sebuah hidangan yang kala itu disebut "sobagaki", dan kemudian dipotong-potong tipis menjadi mi yang kita kenal sekarang. Hidangan ini dapat dibuat sesuai selera Anda dengan menyesuaikan rasio soba dalam mi dan mengganti toppingnya. Menikmati Shinsu Soba bersama keluarga pada hari libur tertentu sudah menjadi tradisi di Jepang.

21. Steak Sapi Hida (Gifu)

Daging sapi Hida diproduksi di Prefektur Gifu yang memiliki bentang alam yang luas, air yang jernih, dan rentang suhu harian. Sebagai merek daging yang sangat terkenal di Jepang, proses seleksinya pun tidak main-main. Hanya daging dari sapi yang telah lolos standar ketat Sebagai merek daging yang sangat terkenal di Jepang. Jika Anda ingin menikmati kelembutan daging dan rasa yang kaya, cobalah "Steak Sapi Hida". Hidangan ini dapat ditemukan di restoran di sekitar Kota Takayama, serta di beberapa lokasi di Prefektur Gifu.

22. Udang Sakura Kakiage (Shizuoka)

Udang sakura merupakan udang langka yang hanya bisa ditangkap di Teluk Suruga di Prefektur Shizuoka. Sebagian besar penangkapannya dilakukan di Pelabuhan Yui. "Udang Sakura Kakiage" disiapkan dengan menggoreng udang sakura yang sudah dicampur adonan tempura hingga menghasilkan tekstur renyah dan aroma menggoda dari udang. Saking lezatnya, para pengunjung dari prefektur lain rela datang jauh-jauh untuk menikmati hidangan ini. Jadi, bersiaplah untuk mengantre panjang selama musim memancing di pertengahan bulan Maret sampai awal Juni, dan akhir bulan Oktober hingga akhir Desember!

23. Hitsumabushi (Aichi)

Salah satu hidangan Prefektur Nagoya yang terkenal, "Hitsumabushi" , disajikan di dalam bak nasi kayu (seperti rantang kayu). Belut di atas nasi dipanggang dengan saus yang disebut "kabayaki", dan dipotong tipis. Hidangan ini sering dimakan dalam 3 porsi dengan membagi beberapa porsi Hitsumabushi ke dalam mangkuk terpisah. Misalnya, mangkuk pertama dimakan sendiri, mangkuk kedua dimakan dengan bahan tambahan seperti wasabi, rumput laut kering, dan mitsuba (sejenis parsley), lalu mangkuk ketiga dimakan dengan green tea atau dashi yang dituang di atasnya.

24. Sukiyaki Daging Sapi Matsuzaka (Mie)

Daging sapi Matsuzaka adalah salah satu dari 3 merek daging sapi terbaik di Jepang. Menyantap "Sukiyaki Daging Sapi Matsuzaka" merupakan cara terbaik untuk menikmati kekayaan rasa dan aroma daging sapi berkualitas tinggi. Irisan daging sapi Matsuzaka dipanggang di kuali besi dan direbus perlahan ke dalam campuran kecap asin, dashi, dan gula untuk mengeluarkan rasanya. Setelah Anda melahap daging yang empuk, nikmatilah sayur-sayuran yang telah menyerap lemak lezat dari daging sapi!

25. Daging Sapi Omi (Shiga)

Daging sapi Omi ditunjuk sebagai jenis Kuroge Wagyu tertua yang diproduksi di alam berlimpah di Prefektur Shiga, dengan sejarah selama sekitar 400 tahun. Meskipun kualitasnya sama seperti daging sapi Matsuzaka dan daging sapi Kobe, harga daging sapi Omi relatif lebih murah, dan menjadikannya sebagai pilihan lebih terjangkau untuk menikmati berbagai hidangan daging sapi seperti sukiyaki.

26. Yu-dofu (Kyoto)

"Yu-dofu", hidangan hot pot yang disajikan dengan merebus tahu dalam air bersama kombu (sejenis rumput laut Jepang) dan dimakan dengan kecap asin, dan/atau ponzu (saus rasa jeruk). Hidangan ini berasal dari masakan agama Buddha yang dihidangkan di Kuil Nanzenji. Hingga kini, Anda masih dapat menemukan banyak toko khusus yu-dofu di sekitar kuil. Meskipun tergolong sederhana, yu-dofu dianggap sebagai salah satu hidangan khas di Kyoto yang dibuat hanya untuk merasakan kualitas tahu.

27. Takoyaki (Osaka)

Makanan cepat saji yang lahir di Osaka ini dibuat dengan mencampurkan potongan daging gurita dan bahan-bahan lain ke dalam tepung serta adonan dashi. Setelah dimasak menjadi bola-bola dengan ukuran sekitar 3-5cm, takoyaki dibaluri dengan saus Worcester dan diberi topping seperti serpihan bonito dan rumput laut kering. Ada banyak restoran dan kios khusus takoyaki yang bisa Anda temukan. Menyaksikan keterampilan staf yang memutar takoyaki di atas lempengan besi juga merupakan pengalaman menyenangkan!

28. Steak Sapi Kobe (Hyogo)

Daging sapi Kobe yang sudah mendunia tidak perlu diragukan lagi soal rasanya. Keharmonisan antara rasa manis yang lembut dan pola marble yang langsung meleleh sungguh tidak tertahankan! Faktanya, hanya 0,16% dari total daging sapi yang didistribusikan di Jepang yang dapat disertifikasi sebagai daging sapi Kobe, karena ada standar yang ketat. Oleh sebab itulah daging sapi Kobe dihargai cukup mahal.

29. Kaki no Ha Sushi (Nara)

Untuk membuat "Kaki no Ha Sushi", irisan ikan seperti makarel dan salmon diletakkan di atas nasi sushi dan dibungkus dengan daun kesemak khusus dari Prefektur Nara, yang memiliki sifat antibakteri. Di sekitar abad ke-18, nelayan dari Prefektur Wakayama membawa ikan makarel asin yang ditangkap di Laut Kumano untuk dijual di Prefektur Nara yang terkurung oleh daratan. Secara kebetulan, para nelayan itu datang ke sana ketika ada penyelenggaraan festival. Penduduk Nara kemudian jatuh cinta pada "Kaki no Ha Sushi" hingga akhirnya menjadi makanan festival yang populer di bulan-bulan pada musim panas dan musim gugur.

 

30. Wakayama Ramen (Wakayama)

Ada dua versi Wakayama Ramen: kecap asin tonkotsu dan kecap asin biasa. Keduanya dibuat dengan mi yang relatif tipis dan lurus, lalu diberi topping char siu, menma, dan daun bawang. Tekstur mi dapat disesuaikan dengan pesanan, dan baru-baru ini, ada jenis baru "Wakayama Ramen" yang cocok dengan kedua versi tersebut sehingga popularitasnya semakin meningkat. Silakan coba keduanya dan bandingkan kenikmatannya!

31. Kepiting Matsuba (Tottori)

"Kepiting Matsuba" adalah masakan khas musim dingin di Prefektur Tottori. Nama ini diberikan untuk kepiting salju dewasa yang ditangkap selama musim pasang di Laut Jepang antara awal bulan November dan Maret. Tekstur yang kukuh dari daging kepiting yang sangat padat ini begitu lezat, baik direbus atau dipanggang. Jeroan kepiting juga sangat patut Anda coba, dan cocok disantap bersama nasi!

32. Izumo Soba (Shimane)

"Izumo Soba" terkenal karena mempunyai warna yang relatif lebih gelap dibandingkan dengan soba biasa. Untuk membuat tepungnya, biji buckwheat ditumbuk menjadi bubuk, termasuk cangkangnya, agar dapat meningkatkan nilai gizi dan aroma mi. Ada dua jenis soba yang bisa Anda coba, Warigo Soba" (dingin) dan "Kama-age Soba" (hangat). Keduanya dimakan bersama tsuyu (sup kecap asin). Jika Anda ingin mencicipi hidangan lezat ini, datanglah ke area sekitar Kuil Izumo atau di dalam Kota Izumo, karena terdapat banyak toko dan restoran spesialis Izumo Soba.

33. Tsuyama Horumon Udon (Okayama)

Terletak di bagian utara Prefektur Okayama, Tsuyama telah memiliki sejarah panjang sebagai kota perdagangan daging kuda dan sapi, serta dikenal sebagai tempat utama untuk menemukan daging murah berkualitas tinggi. "Udon Jeroan Tsuyama" dibuat dengan mengombinasikan udon dan jeroan  ("horumon" dalam bahasa Jepang) yang dipanggang di teppanyaki (wajan besi). Di masa lalu, hidangan ini hanya dimakan oleh penduduk setempat setelah minum alkohol. Namun, ketika dipromosikan bersamaan dengan upaya untuk merevitalisasi kota, Tsuyama Horumon Udon lambat-laun dikenal secara luas di seluruh negeri.

34. Kaki (Hiroshima)

Prefektur Hiroshima adalah penghasil tiram ("kaki") terbesar di Jepang. Dengan ombak yang tenang, salinitas sedang, dan plankton yang melimpah, kondisi alami teluk Hiroshima menghasilkan tiram yang lezat. Musim puncak penangkapan tiram biasanya jatuh di bulan Januari dan Februari, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, tiram dapat dinikmati di musim apa pun sepanjang tahun. Ada begitu banyak toko dan restoran tiram yang tersedia di Prefektur Hiroshima, tetapi perlu Anda ketahui bahwa tiram lebih lezat dimakan mentah atau dipanggang.

35. Fugu (Yamaguchi)

Kota Shimonoseki, yang dikenal karena industri ikan fugu-nya, adalah tempat pertama di Jepang yang mencabut larangan penyajian ikan fugu pada tahun 1888. Sejak saat itu, Shimonoseki telah menjadi simbol bagi ikan fugu. Teknik untuk menghilangkan bagian ikan yang beracun, keahilan memotong tipis daging ikan fugu, serta keterampilan dalam penataan, terus meningkat secara signifikan. Terlepas dari metode standar makan fugu, baik yang direbus atau sebagai sashimi, banyak jenis hidangan fugu yang tersedia di Shimonoseki.

36. Tokushima Ramen (Tokushima)

Ramen khas daerah Prefektur Tokushima dikategorikan menjadi 3 jenis berdasarkan warna supnya: coklat, kuning, dan putih. Tokushima Ramen secara lokal disebut sebagai "chuka soba" (mi Cina) atau "soba" sederhana. Mi pada ramen ini berbentuk lurus dan memiliki topping yang berlimpah, termasuk daging perut babi, tauge, dan telur mentah. Dikarenakan sangat cocok dimakan dengan nasi, ukuran porsinya relatif kecil sehingga pengunjung dapat mencoba jenis ramen lainnya!

37. Sanuki Udon (Kagawa)

Prefektur Kagawa memiliki tingkat konsumsi udon tertinggi di Jepang. Ada banyak restoran udon yang menjual mi ini dengan harga terjangkau. Mi "Sanuki Udon" memiliki tekstur yang unik karena adonannya diremas menggunakan kaki. Sementara itu, supnya (tsuyu) dibuat dengan dashi (kaldu) khusus yang memiliki rasa manis. Selagi Anda berada di Prefektur Kagawa, cobalah berbagai udon lainnya yang juga tidak kalah nikmat, seperti "Kake Udon" (dengan sup panas), "Bukkake Udon" (sup panas dengan bermacam-macam bahan), "Zaru Udon" (udon dingin), dan "Kama-age Udon" (disajikan dalam panci).

38. Tai Meshi (Ehime)

Prefektur Ehime dipenuhi dengan tempat budi daya ikan kakap merah ("tai" dalam bahasa Jepang). "Tai Meshi" adalah salah satu hidangan utama dari sekian banyak hidangan yang dibuat menggunakan ikan ini. Tai Meshi dianggap sebagai masakan khas daerah kota di Imabari dan Matsuyama. Cara membuatnya adalah dengan memasak nasi dan ikan utuh di dalam panci tanah liat atau panci besi. Penyajian "Tai Meshi" dapat bervariasi di setiap daerah, untuk versi yang disajikan di Kota Iwajima di Prefektur Ehime, hidangan ini dibuat dengan menempatkan potongan ikan kakap merah segar yang dicampur dengan saus khusus dan bahan lainnya di atas nasi.

39. Katsuo no Tataki (Kochi)

Hidangan sashimi ini dibuat dengan mengeringkan ikan bonito, mengiris dagingnya menjadi 5 bagian, lalu membakar ringan permukaan luarnya. Dapat dinikmati dengan berbagai bahan tambahan, seperti bawang putih, jahe, dan daun bawang. Aroma yang lezat dan kelembutan daging ikan menjadi satu dan menghasilkan cita rasa yang membuat siapa saja tergiur. Dikarenakan Katsuo no Tataki berasal dari Kota Tosa di Prefektur Kochi, hidangan ini terkadang juga disebut "Tosa-zukuri".

40. Motsu Nabe (Fukuoka)

Bahan utama dari Motsu Nabe adalah jeroan sapi atau babi. Motsu Nabe pertama kali dimasak oleh penambang batu bara setelah perang. Ia mengukus jeroan dan perasa lokio (seperti daun bawang) dengan kecap asin di panci aluminium. Di Kota Fukuoka, ada banyak restoran yang menyajikan "Motsu Nabe", khususnya di Distrik Kota Hakata. Umumnya dinikmati sebagai hidangan sehat yang kaya akan kolagen!

41. Yobuko no Ika (Saga)

Yobuko, yang terletak di ujung utara Semenanjung Matsuura Timur, adalah rumah bagi industri penangkapan cumi yang berkembang pesat. Untuk dapat menikmati rasa terbaik dari cumi-cumi, kesegaran menjadi kunci utamanya, karena cumi-cumi sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Biasanya, cumi-cumi akan dikirim langsung dari kapan penangkapan ikan ke restoran-restoran agar "iki-zukuri" (hidangan dari makanan laut hidup) yang segar dapat disajikan. Menikmati cumi-cumi transparan Yobuko yang menggeliat di piring Anda adalah pengalaman yang tidak boleh terlewatkan!

42. Nagasaki Champon (Nagasaki)

"Champon" adalah hidangan mi yang dibuat dengan bahan-bahan, seperti daging babi, seafood, dan sayuran. Hidangan ini diperkenalkan oleh seorang koki dari Provinsi Fujian, Cina, yang menjalankan restoran di Prefektur Nagasaki pada abad 19. Awalnya, ia berusaha membuat hidangan murah dan bernutrisi yang terinspirasi dari hidangan tradisional Fujian untuk rekan senegaranya. Sup "Champon" yang terbuat dari kaldu daging babi dan ayam dapat dinikmati dengan berbagai cara. Misalnya, menambahkan bumbu ekstra seperti cuka dan saus Worcester.

43. Basashi (Kumamoto)

Hidangan pokok Prefektur Kumamoto, "Basashi", dibuat dengan potongan daging kuda tipis yang disajikan mentah. Konsumsi daging kuda dimulai sekitar 400 tahun lalu, ketika para samurai yang dikirim ke Korea harus memakan daging kuda mereka untuk mencegah kelaparan. Namun, kini daging kuda sudah dinikmati di seluruh Jepang karena memiliki kandungan lemak yang rendah sehingga dapat dikonsumsi sebagai pilihan daging yang sehat. Kumamoto adalah prefektur yang memiliki tingkat konsumsi daging kuda tertinggi di Jepang, dan juga merupakan produsen daging kuda terbesar di negara ini.

44. Toriten (Oita)

Toriten adalah menu populer di Prefektur Oita, yang memiliki tingkat konsumsi ayam tertinggi di Jepang. Ini merupakan jenis tempura yang dibuat dengan menghilangkan tulang ayam, memotongnya menjadi potongan kecil, dan menggorengnya dengan adonan dari tepung, air, dan telur. Cara terbaik menikmati Toriten adalah dengan memakannya bersama sayuran seperti kol parut, dan mencelupnya pada tsuyu tempura, ponzu, atau sujoyu (cuka yang dicampur dengan kecap asin) dengan sedikit cabai.

45. Miyazaki Jitokko (Miyazaki)

Pada tahun 1943, jitokko, jenis ayam yang telah lama dibiakkan di beberapa bagian Prefektur Miyazaki dan Prefektur Kagoshima, diakui sebagai harta nasional Jepang. "Miyazaki Jitokko" adalah merek ayam lokal yang dikembangkan dari pengembangbiakan jitokko yang dilakukan secara selektif. Dikarenakan ayam tersebut dibiakkan di tanah yang luas, daging mereka memiliki tekstur kencang yang melepaskan rasa lezat di setiap gigitan. Memanggang jitokko di atas arang menjadi cara terbaik untuk menikmatinya hingga bagian terahir.

46. Kurobuta (Kagoshima)

"Kurobuta" (sejenis daging babi berkualitas tinggi) sudah ada sejak 400 tahun yang lalu ketika babi dibawa dari Okinawa. Sejak saat itu, para peternak melakukan perkawinan silang antara babi lokal dan babi dari Inggris yang kemudian menyempurnakan rasa dagingnya. Untuk memaksimalkan kesegaran rasa dari daging babi dan mendapatkan tekstur terbaik, sangat direkomendasikan untuk menyantapnya pada hidangan shabu-shabu!

47. Soki Soba (Okinawa)

"Soki Soba" adalah jenis soba Okinawa yang dibuat dengan tepung gandum sebagai pengganti tepung soba. Sup untuk hidangan ini terbuat dari dashi tonkotsu dan kecap asin. Nama "Soki" berasal dari kata yang digunakan di Okinawa untuk merujuk pada iga babi. Jadi, "Soki Soba" mengacu pada soba Okinawa dengan topping iga babi. Hidangan ini diperkenalkan ketika soki, yang dulunya dijual secara terpisah, diletakkan di atas soba yang disajikan di restoran dan menerima ulasan luar biasa dari para pelanggan.

Harap dicatat bahwa artikel ini hanya memperkenalkan satu masakan khas untuk setiap prefektur di Jepang, tetapi sebenarnya, masih ada begitu banyak lagi masakan khas daerah di masing-masing prefektur. Pada perjalanan Anda berikutnya ke Jepang, pastikan untuk mencoba beberapa hidangan yang tercantum di sini maupun yang tidak. Itu adalah cara terbaik untuk mengenal Jepang dari sisi yang berbeda!

 

Jika Anda ingin memberikan komentar pada salah satu artikel kami, memiliki ide untuk pembahasan yang ingin Anda baca, atau memiliki pertanyaan mengenai Jepang, hubungi kami di FacebookTwitter, atau Instagram!

The information in this article is accurate at the time of publication.

Cari Restoran