Menyelami Makna Kerajinan Tradisional Jepang

Ketika mendengar tentang "kerajinan tradisional Jepang", yang mungkin sering terlintas di benak kita adalah kimono dari hasil tenunan indah kain Nishijin, yukata, atau boneka kokeshi. Sebenarnya, masih ada banyak lagi kerajinan tradisional lain yang tetap dipertahankan hingga saat ini, dan terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di berbagai daerah di Jepang. Akan tetapi, kriteria seperti apa yang membuat suatu produk disebut sebagai "kerajinan tradisional"? Mari kita cari tahu jawabannya dengan menyelami makna "kerajinan tradisional" dan betapa pentingnya gelar tersebut bagi para pengrajin.

Seluruh Jepang

Budaya Jepang

Apa Itu "Kerajinan Tradisional Jepang"?

Secara umum, "kerajinan tradisional Jepang" adalah kerajinan yang dibuat secara turun-temurun di suatu daerah dengan memanfaatkan sumber daya alam. Di antaranya, 235 produk berbeda dari seluruh Jepang diklasifikasikan sebagai "kerajinan tradisional" di bawah Undang-Undang Promosi Industri Kerajinan Tradisional tahun 1974.

Kerajinan tradisional Jepang juga banyak digunakan sebagai hadiah untuk dipersembahkan kepada orang-orang penting dalam sejarah Jepang. Bahkan, tidak sedikit pula kerajinan berusia ratusan tahun yang ditetapkan sebagai "harta nasional" atau "properti budaya penting". Hal itu menunjukkan betapa berharga dan autentiknya kerajinan-kerajinan tersebut.

Salah satu alasan mengapa kerajinan tradisional Jepang tidak lekang ditelan zaman adalah karena kegunaannya. Contoh, "Odate Magewappa" (kotak makan dari Odate yang dibuat dengan kayu pinus Akita) yang ditampilkan pada gambar di bawah tetap bertahan hingga kini sebagai kotak makan siang terbaik. Itu karena kayu pinus Akita yang digunakan dibuat sempurna untuk menyerap kelebihan cairan dari makanan yang disimpan di dalamnya, dan menjaga makan siang Anda tetap lezat walaupun berada di kotak selama berjam-jam. Contoh lainnya adalah "Alat Pemotong Sakai" (pisau Jepang) yang terkenal dari Osaka. Setiap pisau Sakai dibuat oleh pengrajin terampil menggunakan teknik pembuatan pedang tradisional Jepang untuk memperoleh pisau baja dengan ketajaman yang jauh lebih unggul dari pisau keramik terbaik sekali pun. Kombinasi kualitas dan kegunaan inilah yang membedakan kerajinan tradisional Jepang dari produk lainnya.

Mencerminkan sejarah dan budaya masing-masing wilayah dan dibuat dengan teknik yang diturunkan dari generasi ke generasi, kerajin tradisional Jepang membangkitkan kehangatan tangan para pengrajin dan memiliki kualitas istimewa yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh mesin.

*per Juni, 2020

Kriteria "Kerajinan Tradisional Jepang"

Menurut Undang-Undang Promosi Industri Kerajinan Tradisional tahun 1947 dari Kementerian Perdagangan Internasonal dan Industri (sekarang Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri), kerajinan tradisional Jepang harus memenuhi persyaratan berikut:

1. Kerajinan tersebut dimaksudkan untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Komponen utama dari kerajinan itu harus dibuat dengan tangan.
3. Kerajinan tersebut harus dibuat dengan metode dan teknik tradisional.
4. Bahan-bahan utama yang digunakan harus sama dengan bahan-bahan yang digunakan secara tradisional untuk membuat kerajinan tersebut.
5. Sejumlah besar bisnis di wilayah tertentu harus memproduksi atau terlibat dalam proses produksi kerajinan tersebut.

(Diterjemahkan dari situs web Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri)

Berikut adalah rincian dari setiap persyaratan.

1. Harus Digunakan dalam Kehidupan Sehari-hari

Barang-barang yang rutin digunakan oleh rumah tangga biasa masuk ke dalam kategori ini walaupun penggunaannya terbatas hanya beberapa kali setahun atau seumur hidup. Misalnya, barang-barang yang dipakai pada festival musiman atau acara-acara seremonial.

Dalam bahasa Jepang, kerajinan terkadang dideskripsikan dengan frasa "yo no bi", yang berarti "keindahan penggunaan". Makna itu merujuk pada gagasan bahwa barang-barang ini benar-benar menjadi semakin indah dan fungsional karena disentuh dan dikagumi seiring berjalannya waktu.

2. Komponen Utama Harus Dibuat dengan Tangan

Suatu kerajinan tidak perlu seluruhnya dibuat dengan tangan, tetapi fitur-fitur penting yang memberikan bentuk karakteristik pada kerajinan tersebut harus dibuat menggunakan tangan. Bahan, bentuk, desain, dan fitur lainnya pun harus berkualitas tinggi. Terlebih lagi, karena masing-masing barang dibuat dan ditangani oleh pengrajin, bentuk dan ukurannya ergonomis dan keamanannya terjamin.

3. Menggunakan Metode dan Teknik Tradisional

"Tradisional" dalam hal ini mengacu pada sesuatu yang telah berlangsung selama lebih dari 100 tahun. Semua metode dan teknik yang sudah dikembangkan selama lebih dari ratusan tahun melalui trial and error oleh pengrajin di suatu daerah dinilai memenuhi standar tersebut. Meskipun istilah "metode" dan "teknik" terkait erat, metode dapat digambarkan sebagai "akumulasi historis pengetahuan yang berhubungan dengan keseluruhan proses, mulai dari pemilihan bahan hingga pembuatan". Sementara itu, "teknik" lebih mengacu pada keterampilan individu pengrajin yang dapat dipoles dan ditingkatkan.

Dengan demikian, metode dan teknik tradisional tidak harus persis sama seperti sebelumnya dan dapat ditingkatkan selama elemen-elemen dasar kerajinan tidak berubah. 

4. Bahan-bahannya Harus Sama Seperti yang Digunakan secara Tradisional

Maksud dari "digunakan secara tradisional" adalah bahan-bahan tersebut telah digunakan lebih dari 100 tahun, serta baik untuk manusia dan lingkungan. Jika ada bahan-bahan yang tidak lagi tersedia, penggantian bahan serupa diperbolehkan asalkan karakteristik penting dari kerajinan tersebut tetap tidak berubah.

5. Diproduksi di Wilayah Tertentu

Kerajinan harus diproduksi di wilayah tertentu oleh sejumlah besar bisnis dan dianggap sebagai produk lokal dari wilayah tersebut. "Sejumlah" besar yang dimaksud di sini setidaknya ada 10 bisnis atau lebih dari 30 orang yang terlibat dalam produksinya. Kerajinan itu juga harus berbeda dari produk lainnya yang diproduksi oleh bisnis tersebut, dan seluruh wilayah harus merasa terhubung dan bertanggung jawab atas kelangsungan produksi yang berkelanjutan.

(Diterjemahkan dari situs web Asosiasi Promosi Produksi Kerajinan Tradisional)

Bagaimana dengan Kerajinan Tradisional Jepang yang Tidak Diakui Secara Resmi?

Masih ada begitu banyak kerajinan tradisional Jepang yang luar biasa, tetapi tidak diakui secara resmi karena faktor minor. Salah satu contohnya adalah Nishijima Washi (kertas Jepang) yang masih terus diproduksi hingga kini di Prefektur Yamanashi. Meskipun tidak semuanya diakui secara resmi, kerajinan tradisional Jepang seolah terus hidup dan menjadi bagian penting dalam masyarakat Jepang.

Kerajinan Tradisional Jepang Saat Ini

Penurunan Permintaan Seiring Perkembangan Zaman

Pada tahun 50 dan 60-an, Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat sehingga menghasilkan pola produksi serta konsumsi masal. Akibatnya, konsumen lebih memilih barang-barang murah sekali pakai dibandingkan yang mahal. Gaya hidup ke-Barat-Baratan juga turut berperan dalam pergesaran kebiasaan tersebut.

Namun, belakangan ini, orang-orang di seluruh Jepang mulai menolak model produksi dan konsumsi masal, dan justru kembali ke akar mereka, yaitu memilih produk ramah lingkungan yang dapat digunakan selama bertahun-tahun. Itulah yang menghidupkan kembali kerajinan tradisional.

Kekurangan Bahan dan Tidak Ada yang Mengambil Alih

Umumnya, seorang pengrajin melakukan pelatihan selama bertahun-tahun di bawah sistem magang. Namun, karena gaya pelatihan dan pekerjaan ini sangat berbeda dari perusahaan modern, jumlah orang yang memilih untuk terjun ke bidang pekerjaan tradisional semakin menurun. Alasan lainnya adalah perbedaan keuntungan kerja. Seperti yang disebutkan di atas, pesatnya pertumbuhan ekonomi yang dialami Jepang melahirkan berbagai jenis pekerjaan, dan sebagian besar memberikan asuransi pengangguran, jaminan hari libur, serta tunjangan lain yang tidak diberikan kepada pengrajin tradisional. Masalah ini terus berlanjut sampai sekarang dan menjadi ancaman yang lebih besar bagi kerajinan tradisional skala kecil.

Lebih jauh lagi, ledakan ekonomi juga menyebabkan industri primer seperti pertanian turut menyusut. Hasilnya, bahan-bahan penting yang biasa digunakan untuk kerajinan tradisional Jepang semakin berkurang, seperti pernis, kayu, dan sutra. Ini juga merupakan masalah lain yang harus dihadapi bisnis tradisional.

Sulitnya Memperoleh "Gelar" Resmi sebagai "Kerajinan Tradisional"

Penetapan resmi dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri untuk "kerajinan tradisional" diatur secara rinci dalam undang-undang. Bahkan, suatu produk tidak akan diakui sebagai "kerajinan tradisional" meski hanya sedikit melenceng dari rincian tersebut. Dengan demikian, ada banyak kesulitan yang harus dilewati. Bagi orang-orang yang ingin memperoleh penetapan resmi, dan beberapa pengrajin muda yang mencoba melakukan perubahan untuk memenuhi kebutuhan zaman atau menambah nilai produk, mendapatkan gelar "kerajinan tradisional" pada karya mereka bukanlah hal yang mudah.

Kesimpulan

Meskipun saat ini menghadapi banyak tantangan, kerajinan tradisional Jepang tetap hidup sampai sekarang. Jumlah konsumen yang ingin mendukung bisnis kecil, menjaga lingkungan, dan mempertahankan tradisi Jepang agar tidak ditelan zaman juga semakin bertambah. Mereka memilih untuk menggunakan kerajinan tradisional Jepang daripada produk-produk sekali pakai yang berharga murah. Semoga tren ini bisa terus berlanjut sehingga kerajinan tradisional dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

 

Jika Anda ingin memberikan komentar pada salah satu artikel kami, memiliki ide untuk pembahasan yang ingin Anda baca, atau memiliki pertanyaan mengenai Jepang, hubungi kami di FacebookTwitter, atau Instagram!

The information in this article is accurate at the time of publication.

Artikel Terkait

Cari Restoran